PLH Kelas 6

 Berikut adalah rangkuman materi Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) untuk kelas 6 Kurikulum Merdeka.

Lingkungan Hidup dan Dampaknya

Lingkungan hidup adalah segala sesuatu di sekitar kita yang memengaruhi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya. Lingkungan terdiri dari dua komponen utama:

  • Komponen Biotik: Makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan.

  • Komponen Abiotik: Benda tidak hidup seperti tanah, air, udara, dan cahaya matahari.

Perilaku negatif seperti membuang sampah sembarangan, penebangan pohon liar, dan penggunaan pestisida berlebihan dapat merusak keseimbangan alam. Dampak dari perilaku ini adalah pencemaran tanah, air, dan udara, yang pada akhirnya dapat menyebabkan bencana alam, hilangnya keanekaragaman hayati, dan masalah kesehatan bagi manusia.

Cara Pemulihan dan Pelestarian Lingkungan

Untuk memulihkan lingkungan yang sudah rusak, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Reboisasi: Penanaman kembali hutan yang gundul.

  • Pengelolaan Sampah: Mengolah sampah dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

  • Pembuatan Terasering: Mencegah erosi di lahan miring.

  • Penggunaan Energi Terbarukan: Mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mencemari udara.

Gaya Hidup Berkelanjutan

Gaya hidup berkelanjutan adalah cara hidup yang mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Penerapannya bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti:

  • Hidup Sederhana: Mengurangi konsumsi barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan.

  • Gerakan Sekolah Hijau: Kegiatan di sekolah yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang ramah lingkungan, misalnya memilah sampah, membuat kompos, atau menanam pohon di lingkungan sekolah.

Flora dan Fauna yang Dilindungi

Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna (keanekaragaman hayati) yang sangat beragam. Namun, banyak di antaranya terancam punah karena perburuan liar dan hilangnya habitat. Beberapa contoh hewan yang dilindungi antara lain harimau Sumatra, orang utan, dan badak Jawa. Contoh tumbuhan yang dilindungi adalah bunga Rafflesia Arnoldii dan pohon ulin.

Budidaya adalah usaha untuk mengembangbiakkan hewan atau tumbuhan agar tidak punah dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Contohnya adalah budidaya ikan lele, jamur tiram, atau tanaman hidroponik. Budidaya menjadi salah satu cara untuk menjaga kelestarian alam sambil memenuhi kebutuhan manusia.


Berikut adalah panduan lengkap cara budidaya tanaman kopi, termasuk persyaratan tanah yang ideal.

1. Memilih Bibit dan Menyiapkan Lahan

  • Pemilihan Jenis Kopi: Pilihlah jenis kopi yang sesuai dengan kondisi lingkungan Anda. Kopi Arabika cocok untuk dataran tinggi (>900 mdpl), sementara Robusta lebih toleran di dataran rendah (<700 mdpl). Liberika bahkan dapat tumbuh di tanah yang kurang subur.

  • Persiapan Lahan: Lahan harus dibersihkan dari gulma dan tanaman liar. Gemburkan tanah dan buatlah lubang tanam dengan ukuran 60x60x60 cm. Lubang ini sebaiknya dibuat 3-6 bulan sebelum penanaman. Pisahkan tanah galian bagian atas dan bawah. Campurkan tanah galian bawah dengan belerang dan kapur, lalu masukkan kembali ke dalam lubang.

  • Tanaman Peneduh: Tanaman kopi membutuhkan naungan. Tanamlah pohon peneduh seperti lamtoro atau dadap di sekitar lokasi tanam dengan perbandingan ideal 1 pohon peneduh untuk setiap 4-8 tanaman kopi.

2. Proses Penanaman dan Pemeliharaan

  • Penyemaian Bibit: Tanam biji kopi seleksi di bedengan dengan kedalaman 0,5-1 cm. Setelah bibit berkecambah (sekitar 2-3 bulan), pindahkan ke dalam polybag.

  • Penanaman Bibit: Pindahkan bibit dari polybag ke lubang tanam yang sudah disiapkan. Pastikan posisi bibit tegak lurus dan sejajar dengan permukaan tanah.

  • Penyiraman: Lakukan penyiraman secara rutin, terutama di musim kemarau, agar tanah tetap lembab. Jangan biarkan tanah tergenang air untuk menghindari pembusukan akar.

  • Pemupukan: Berikan pupuk, baik organik maupun kimia, dua kali setahun (di awal dan akhir musim hujan). Taburkan pupuk sekitar 30-50 cm dari batang tanaman dan tutup dengan tanah.

  • Pemangkasan: Pemangkasan bertujuan untuk merapikan tanaman, mempermudah pemanenan, dan merangsang pembentukan cabang baru.

3. Persyaratan Tanah yang Ideal

Tanah yang cocok untuk budidaya kopi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tekstur: Tanah gembur dengan tekstur lempung berpasir atau lempung liat berdebu.

  • Drainase: Memiliki drainase yang baik agar air tidak menggenang.

  • Kesuburan: Kaya akan bahan organik dan unsur hara, terutama kalium.

  • pH Tanah: Reaksi tanah yang agak asam dengan pH 5,5-6,5. Jika pH terlalu asam, bisa dinetralkan dengan pengapuran.

  • Kedalaman: Solum tanah cukup dalam (>100 cm).

4. Panen dan Pascapanen

  • Panen: Tanaman kopi biasanya mulai berbuah pada usia 2,5-3 tahun. Panen dilakukan dengan memetik buah yang sudah matang sempurna, ditandai dengan warna merah.

  • Pascapanen: Setelah dipanen, lakukan sortasi untuk memisahkan buah yang baik dari yang rusak. Kemudian, lakukan proses pengolahan, seperti pengupasan kulit buah (pulping) dan pengeringan, hingga kadar airnya mencapai 12-13%.

Anda bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perawatan tanaman kopi dari video berikut: Perawatan Tanaman Kopi Berkualitas. Video ini berisi informasi tentang teknik-teknik perawatan tanaman kopi untuk menghasilkan biji berkualitas.



Komentar

Popular Gurur Garsel Berbagi