Cerita Inspiratif Pensil, Penghapus, dan Selembar Kertas

 Pensil, Penghapus, dan Selembar Kertas

Di sebuah kelas di SDN 1 Koding, hiduplah seorang siswa bernama AI. Hari itu adalah hari pembagian rapor semester satu. AI tampak tertunduk lesu melihat nilai matematikanya yang tidak setinggi teman-temannya. Ia merasa seperti sebuah pensil yang tumpul.

Melihat hal itu, sang Guru menghampiri AI dan membawa sebuah pensil kayu serta sebuah penghapus.

"AI," puji Guru dengan lembut. "Tahukah kamu apa yang membuat pensil ini berguna?"

AI menggeleng. "Karena dia bisa menulis, Pak?"

"Betul," jawab Guru. "Tapi sebelum dia bisa menulis dengan indah, dia harus berkali-kali diruncingkan. Proses peruncingan itu menyakitkan bagi si pensil, tapi itu satu-satunya cara agar dia tidak tumpul. Begitu juga dengan nilai rapor ini. Mungkin belajar itu terasa melelahkan dan menyakitkan, tapi itu sedang meruncingkan bakatmu."

Guru kemudian menunjukkan penghapus di tangan kirinya. "Dan tahukah kamu kenapa pensil selalu memiliki penghapus? Itu karena Tuhan tahu bahwa manusia pasti akan melakukan kesalahan. Jika kamu membuat kesalahan di semester ini, jangan berhenti menulis. Gunakan 'penghapus' itu untuk belajar dari kesalahan, lalu mulailah menulis lagi dengan lebih baik di lembar yang baru."

Guru itu memegang pundak AI dan berkata kepada seluruh kelas:

"Anak-anak, rapor ini hanyalah laporan tentang apa yang sudah kalian tulis sejauh ini. Jika tulisanmu belum rapi, jangan buang pensilmu. Runcingkan lagi semangatmu, gunakan penghapusmu untuk memperbaiki diri, dan ingatlah bahwa kertas kehidupan kalian masih sangat panjang untuk diisi dengan prestasi yang lain."

AI pun tersenyum. Ia menyadari bahwa nilainya hari ini bukanlah titik henti, melainkan tanda bahwa ia harus kembali meruncingkan semangatnya untuk semester depan.

Pesan Moral untuk Siswa & Orang Tua:

  1. Proses "Meruncing": Kesulitan dalam belajar adalah proses pendewasaan agar siswa menjadi lebih tajam dan cerdas.

  2. Fungsi Penghapus: Kegagalan atau nilai yang kurang baik adalah hal yang wajar; yang terpenting adalah kemauan untuk memperbaiki (menghapus kesalahan) dan mencoba lagi hal yang lebih baik.

  3. Potensi Masa Depan: Masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh satu nilai di satu semester, melainkan oleh ketekunan mereka untuk terus "menulis" cerita hidupnya.

Komentar

Popular Gurur Garsel Berbagi