Cerita Anak Peduli Lingkungan

 Cerita Anak Peduli Lingkungan

Sambil memegang papan jalan dan pensil, Naura mulai melihat ke sekelilingnya.

"Rafa, coba lihat burung yang lagi hinggap di pagar itu. Itu termasuk makhluk hidup atau benda mati?" tanya Naura sambil menunjuk seekor burung gereja.

"Jelas makhluk hidup, dong!" jawab Rafa mantap. "Burung itu bergerak, bernapas, dan tadi aku lihat dia lagi makan remah-remah roti. Kalau pagarnya baru benda mati, karena enggak bisa bergerak sendiri atau tumbuh."

Naura mengangguk-angguk lalu mencatatnya. "Kalau pohon mangga tempat kita berteduh ini? Dia kan enggak jalan-jalan kayak burung."

"Pohon tetap makhluk hidup, Naura. Walaupun enggak berpindah tempat, pohon itu tumbuh dari kecil sampai besar, bernapas, dan butuh makan juga lewat fotosintesis," jelas Rafa, mengingat pelajaran kemarin.

Naura kemudian menyentuh permukaan tanah di dekat akar pohon mangga. "Ngomong-ngomong soal pohon, dia beruntung banget ya bisa tumbuh sebesar ini di sini."

"Bukan cuma pohon yang beruntung, kita manusia juga," kata Rafa sambil ikut memperhatikan tanah. "Kamu tahu enggak? Tanah ini adalah fondasi utama buat kelangsungan hidup kita. Tanpa tanah yang subur, petani enggak bisa menanam padi, sayur, atau buah yang kita makan setiap hari."

"Wah, benar juga ya. Tanah itu tempat tumbuhnya sumber makanan kita," ujar Naura kagum. "Lalu, kalau pohonya sendiri? Selain bikin halaman sekolah jadi adem, apa lagi manfaatnya?"

Rafa tersenyum dan menarik napas dalam-dalam. "Coba rasakan udara yang kita hirup sekarang. Segar, kan? Itu karena pohon menghasilkan oksigen yang kita butuhkan untuk bernapas. Selain itu, akar pohon yang kuat di dalam tanah berfungsi untuk mengikat air dan mencegah banjir atau tanah longsor saat hujan deras."

Tepat setelah Rafa menjelaskan tentang air, bel istirahat berbunyi. Beberapa anak berlarian menuju keran air di sudut taman untuk mencuci tangan dan minum.

"Lihat mereka," kata Naura sambil menunjuk ke arah keran. "Itu mengingatkan aku sama unsur penting yang ketiga: Air."

"Yup! Air itu sumber kehidupan paling utama," sahut Rafa. "Tubuh kita sebagian besar terdiri dari air. Manusia bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa makan, tapi kalau tanpa air, kita bisa dehidrasi parah dan berbahaya bagi keselamatan."

Naura melengkapi catatannya dengan bersemangat. "Jadi kesimpulannya, tanah menyediakan tempat tumbuh dan nutrisi, pohon menghasilkan oksigen dan menjaga lingkungan, lalu air menyegarkan dan menghidupi semua makhluk. Ketiganya saling bekerja sama supaya manusia bisa tetap hidup dengan baik, ya?"

"Tepat sekali! Makanya kita harus jaga kebersihan sekolah, jangan buang sampah sembarangan di tanah, dan jangan boros pakai air," tutup Rafa.

Mereka berdua pun tersenyum puas, siap mengumpulkan laporan pengamatan mereka yang penuh dengan ilmu baru hari itu.

Komentar

Popular Gurur Garsel Berbagi